Selasa, 08 Oktober 2013

Menjaga Ternyata Harus Lebih Semangat Ketimbang Memulai

Form Mutabaah
Dulu tepatnya tahun 2001 pada waktu saya masih bekerja di suatu pabrik di Kawasan Industri Cilegon, saya mempunyai harapan agar segera mendapatkan pekerjaan lain yang lebih enak dan tidak mengganggu aktifitas ibadah. Terus terang kalau dipabrik saya merasa ibadah menjadi terganggu, melaksanakan sholat dalam keadaan badan kotor dan terburu-buru karena istirahatnya bergantian dengan karyawan lain sedangkan produksi tidak boleh berhenti dalam hitungan menitpun, itulah yang membuat ketidaknyamanan pada diri saya.

Empat tahun kemudian Allah memperkenankan do'a saya, akhirnya saya bekerja disuatu lembaga sosial yang kerjanya kebanyakan didepan komputer dengan ruangan yang dingin dan Alhamdulillah sholat wajib dan sunnah menjadi lebih tenang. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, tahun berganti tahun, saya baru merasakan bahwa iman itu pasang surut seperti air laut. Sulitnya menjaga keistiqomahan dalam beribadah, pernah puasa senin kamis sampai 6 bulan gara-gara tidak puasa sekali eh..liburnya berlanjut sampai berbulan-bulan. Pernah merutinkan sholat malam hampir setiap malam, ketika tidak sholat malam sekali saja karena kecapaian eh... malah keterusan tidak sholat malam berbulan-bulan juga. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa "menjaga ternyata harus lebih semangat ketimbang memulai".

Untungnya saya dipertemukan oleh orang-orang yang peduli dengan amaliyah sehari-hari, setiap minggu amaliah saya ditanyakan oleh pak ustadz, bagaimana sholat jamaahnya selama sepekan, ibadah sunnahnya bagaimana? waktu yang digunakan untuk silaturahim ke saudara berapa kali dalam sepekan? dll.

Untungnya saya juga bekerja dilembaga yang benar-benar memperhatikan amaliyah karyawan-karyawannya dan hebatnya lagi lembaga tersebut membuat target amaliyah yang harus dicapai oleh karyawannya dan jika tidak tercapai maka akan dikenakan sanksi administrasi. Sama halnya dengan peraturan yang dibuat oleh Mas Mono pemilik usaha "Ayam Bakar Mas Mono", beliau pernah menceritakan dalam seminar yang diadakan di RM.S'Rizky Serang bahwa setiap karyawannya diwajibkan untuk sholat dhuha dan sholat dhuha itu dijadikan password atau absen masuk karyawan jika tidak sholat dhuha dianggap tidak masuk kerja tentunya mengurangi gaji kan?

Lain halnya dengan Suanah siswa salah satu SMK diwilayah Cilegon, Suanah tidak pernah telat sholat malam dan dhuha sejak jenjang MTs, sekali terlewat karena tertidur maka Suanah menangis sejadi-jadinya. Kasus Suanah tidak ada yang memaksa dia untuk berbuat itu akan tetapi dia sendiri yang memaksakan dirinya dengan cara mewajibkan sholat dan puasa sunnah seperti ibadah fardhu.

Bagaimana dengan Sobat, yuk kita paksakan diri kita untuk istiqomah beribadah kepada Allah atau jika tidak kita akan dipaksa oleh Syetan untuk menuruti hawa nafsu dan perbuatan menyia-nyiakan waktu. Padahal tidak lama kita beramal, tidak susah kita berbakti dan tidak pula rugi dalam beribadah.
Wallahu'alam Bishowab

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Sobat berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam terima kasih.